Sabtu, 01 Oktober 2016

kepada kamu...

sungguh, hari-hari terasa mulai menyulitkan. 
terkadang diam dan sabarku dianggap semena-mena. bukan lagi yang paling mematikan.
kau memang ahlinya, membuatku khawatir dan rasanya ingin secepat kilat berada disana. 
keselamatanmu adalah apa yg aku selalu panjatkan dalam sujud akhirku. jika kau ingin tahu itu. tidak pun tak apa.
aku dengan penuh harap kau tak kurang satu apapun. detik demi detik ku hitung agar aku mendapatkan kabar bahwa kau baik-baik saja. tidak kah kau sedikit menghargai detik itu? yang akhir-akhir ini hanya tersita untuk memikirkanmu dan kita? 

iyah. kita. 
terdengar sederhana ditelingamu mungkin. namun ia terlihat hampir seperti benang kusut di hadapanku. yang sedang mencoba ku urai kembali. ah, rasanya jarak semakin membunuhku. kali ini kita sedang tidak baik-baik saja. setelah baru saja telfonku kau matikan, karena kau tidak suka dengan pertanyaanku yg kau anggap terlalu mencampuri urusanmu. bukankah aku boleh mengkhawatirkanmu? bukankah aku boleh berpendapat untukmu? ataukah...

sungguh, hari-hari kedepan ini aku sangat butuh kamu. secara fisik mungkin akan mustahil, tapi kehadiran bukan soal-menyoal  fisik saja. juga tentang waktu, keberadaan  secara emosional. mungkin saya egois menginginkan itu dari kamu, tapi bukankah mencampuri urusanmu yg membuatmu jatuh paling egois? ahh...sekali lagi aku malas sekali berdebat ataupun beradu argumen denganmu. kepalaku sedang penuh, tubuhku sedang manja, aku hanya ingin mendengar candaanmu seperti biasanya. melunturkan kepenatan yg melilitku erat. sesederhana itu aku butuh kamu.

lalu, tidakkah sedikit kau berfikir soal kita? jangan kau biarkan aku memikulnya sendiri, stress sendiri, kamu jangan keterlaluan sayang...
demi kita berdua, seharusnya memang kita berdua yg berkorban. untuk kita. 
kata orang, membangun sebuah keluarga itu butuh dua orang yang sama-sama kuat. terlepas dari "saling menguatkan". kita akan menuju itu sebentar lagi. semoga kau masih ingin bersamaku melalui tujuan itu. 

malam ini, sebelum insiden kau menutupkan telfon dan aku secara tidak sadar meneteskan air mata. hariku sudah lumayan kacau, dari ide yang tiba-tiba menguap entah kemana, tubuh yang semakin tidak bisa diajak kompromi, tugas negara dirumah yg menanti, ditambah insiden itu beberapa jam yg lalu. sungguh, inilah kepayahanku. 

malam ini, aku hanya ingin semuanya bisa ku selesaikan. kau menelfonku dan mengatakan rindu, sungguh aku tidak butuh maaf. ini bukan lebaran. aku hanya ingin dengan sekejap kita baik-baik saja, sehingga beban kita berkurang. dan aku ingin kau tau, hari-hari menuju pernikahan memanglah sepayah dan serapuh ini, maka kalo bukan kita yang sama-sama kuat, lalu apalagi? jangan kalah sama godaan ini, jalani saja. hingga garis finish, tapi pemenangnya sudah tentu harus kita. 

kepada kamu...
lalu, kapan kamu telfon aku dan yakinkan aku kalo kita akan selalu baik-baik saja?


----------------------------------------------
menulispun aku berasa pilu, pada malam yang kubutuhkan padamu. 
02:45 dini hari. 



withLove, 
hiksyanisanie 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar